7 Cara Membakar Semangat Untuk Menulis Kembali

Oktober 08, 2017




Meskipun kita merasa passion kita adalah menulis, bahkan menjadikannya sebagai profesi, tapi ada kalanya rasa malas dan nggak mood untuk nulis itu datang. Pas buka laptop malahan ngelamun, pas nyari ide malahan asyik buka media sosial, ya hal seperti itu juga yang saya rasakan dua bulan kemarin.

Awal-awal terjun ke dunia menulis, begitu semangat sampai bisa nulis artikel tiga artikel perhari, dan akhirnya dapat job selama sembilan bulan untuk menjadi kontributor di sebuah situs web. Tapi, setelah kontrak itu berakhir, mulailah merasakan semangat nulis jadi menurun, yang tadinya sanggup minimal 1 hari 1 artikel, sekarang hanya 3 artikel/bulan. Ya, entah apa penyebabnya, ini bukan masalah dibayar atau tidaknya tapi masalah kurangnya semangat dan seiring bertambahnya aktivitas di luar dunia menulis.

Setelah dua bulan tidak terlalu aktif nulis, bulan ini saya ingin kembali membangkitkan semangat untuk terus mengasah keahlian dalam dunia menulis. Bukankah jika kita ingin menekuni suatu bidang secara profesional, maka kita harus bisa konsisiten dan tak lelah untuk belajar?

Untuk itu, ada beberapa hal yang saya lakukan saat ingin kembali lagi aktif menulis, yaitu:
1. Merenungkan kembali motivasi saat pertama ingin terjun ke dunia menulis
Pertama kali saya ingin terjun menjadi penulis adalah karena ingin banyak berbagi dan menginspirasi meskipun  lewat sebuah tulisan, karena terus terang untuk berbagi dengan cara berbicara di depan bukanlah hal yang saya kuasai. Untuk itu lewat tulisanlah saya memilih untuk bisa berbagi.

2. Belajar lagi pada mentor tentang ilmu kepenulisan
Bulan ini kebetulan dibuka kelas editor, saya langsung tertarik karena ilmu ini penting banget buat seorang penulis, meskipun rada pusing juga dengan tugasnya. Namun, ilmu itu harus terus ditambah agar kita tidak jauh ketinggalan.

3. Menyusun target
Selama ini saya tidak punya target menulis semua mengalir begitu saja, tapi sekarang hal itu harus saya hndari karena dengan adanya target maka kita bisa memotivasi diri untuk terus mengejarnya. Targetnya pun sederhana misalnya nulis artikel untuk beberap web minimal 3 kali dalam seminggu, nulis di blog minimal 10 tulisan dalam satu bulan.

4. Banyak membaca
Hal mustahil jika kita ingin menjadi penulis tapi tidak suka baca, untuk itu saya mulai lagi banyak membaca. Selain untuk menambah ilmu, membaca juga menambah referensi untuk bahan tulisan.

5. Mengatur jadwal harian
Untuk kembali aktif, maka saya harus bisa mengatur kembali jadwal nulis yang sudah lama tidak terjadwal. Karena saya juga bekerja maka malam hari adalah waktu saya untuk nulis, dan itupun ditarget tidak lebih dari satu jam saja.
 
6. Mencatat ide
Ide untuk nulis kadang datang saat kapan saja, untuk itu dengan mencatatnya maka kita terhindar dari lupa. Maklum, kalo ibu-ibu seperti saya banyak aktivitas suka lupa kalau menunda-nunda mencatat ide. Jadi, harus langsung dicatat dan saat sudah waktunya nulis langsung dibuat setidaknya berbentuk draft dahulu untuk selanjutnya dikembangkan menjadi sebuah tulisan.

7. Banyak blogwalking dan sering membuka web yang menjadi target saya menulis
Dengan banyak blogwalking maka kita akan mendapat sebuah ide, sebuah ilmu baru bagaimana cara nulis yang baik untuk di blog, tema apa saja yang menarik pengunjung dan sebagainya. Sedangkan untuk web sendiri harus sering dibuka agar kita tahu tema dan gaya penulisan seperti apa yang banyak diminati oleh pengunjung situs tersebut.

Nah, 7 cara membakar kembali semangat menulis diatas adalah versi saya, setiap orang mungkin berbeda, tetapi mudah-mudahan apa yang saya tulis selalu ada manfaatnya. Selamat menulis dan teruslah berbagi meskipun hanya lewat sebuah tulisan. Hamasah!

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia #ODOPOKT4



2 komentar:

  1. Kadang menulis itu memang harus dipaksakan ya, Mbak. Aku dari pagi cuma melototin layar laptop. Males mau nulis.

    BalasHapus
  2. Ya Mbak harus dipaksakan biar terpaksa

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.