Personal & Lifestyle

September 29, 2017

Tips Sederhana Menularkan Virus Membaca Pada Anak

by , in






Bicara tentang menanamkan budaya membaca di keluarga, berarti membahas sebuah topik yang bukan menjadi kebiasaan keluarga saya. Jadi hal yang aneh adalah saat saya senang membaca buku meskipun dibesarkan di keluarga yang bukan pecinta buku dan tidak ada kebiasaan membaca. Tak, satu pun buku yang orang tua saya punya, yang ada hanya buku pelajaran sekolah anak-anaknya.

Meskipun begitu, entah kenapa saya senang sekali membaca meskipun awalnya yang sering saya baca adalah majalah bobo meskipun yang bekas itu juga. Akan tetapi masih lekat dalam ingatan, saya sering mengikuti cerita Nirmala ataupun cerita Donald Bebek beserta paman Gobernya. Rasanya senang sekali bisa membacanya dengan bersambung. 


Menginjak remaja mulailah membeli majalah dari hasil menabung sisa uang saku, dan yang dibeli adalah majalah yang memang sedang hits pada masanya, seperti aneka yes, kawanku dan lain sebagainya. Selain majalah, entah kenapa saya suka membeli tabloid resep masakan, padahal nggak punya hobi masak, namun entahlah seneng banget beli tabloid itu.


Selain tabloid, majalahpun sering saya baca meskipun majalah dewasa seperti Kartini dan Femina, nah dari majalah Femina yang paling menarik adalah cerita Oh Mama Oh Papa, sebuah cerita yang katanya berdasarkan kisah nyata. Angkatan 90 an pasti tahulah cerita tersebut, iya kan?


Dari cerita Oh Mama Oh Papa inilah saya jadi punya mimpi ingin menulis cerpen, namun karena keterbatasan ilmu, jadinya keinginan itu hanyalah angan-angan semata tanpa ada tindakan nyata.


Kebiasaan saya suka mengoleksi buku berlanjut sampai saat ini, tentunya majalah yang  dibaca pun berubah menjadi majalah untuk dewasa seperti majalah Ummi, Percikan Iman dan majalah islami lainnya. Selain, majalah setelah mempunyai penghasilan mulailah membeli buku untuk koleksi pribadi yang banyaknya bertema parenthing dan rumah tangga.


Setelah menikah dan mempunyai anak, pengen dong pastinya, menularkan hobi membaca pada anak-anak. Nah, untuk itu saya berbagi beberapa tips berikut:

1. Belilah buku cerita yang menarik untuk anak-anak.



Kita bisa membeli buku cerita yang bergambar ataupun berwarna menarik bagi anak-anak. Setidaknya saat mereka belum bisa membaca, tapi dengan melihat gambar saja sudah membuat mereka akan mulai tertarik untuk membuka lembaran-lembaran buku tersebut.

2. Simpan ditempat yang terjangkau anak-anak

Kadang sebagai ibu kita ingin anak suka buku, tapi disimpan diatas lemari, di rak yang paling atas, ataupun ditempat lainnya yang susah dijangkau anka-anak. Untuk menularkan virus membaca, simpanlah buku di tempat yang terjangkau, biarkan mereka mengeksplor rasa ingin tahunya, jangan sampai terhalang hanya karena ibunya takut buku-buku yang sudah dibeli robek ataupun hilang.

3. Sesuaikan dengan usianya

Belilah buku cerita sesuai usia anak, jangan sampai anak balita diberi komik yang berwarna hitam putih, karena mereka tidak akan tertarik. Jadi, belilah buku sesuai dengan usia anak baik dari segi bahan kertas maupun ceritanya.

4. Buatlah jadwal membaca bersama

Agar anak-anak terbiasa membaca buku, buatlah jadwal khusus untuk membaca buku bersama. Pilihlah waktu yang tepat misalnya saja setelah maghrib ataupun saat weekend.

5. Buat area membaca yang mengasyikan

Supaya saat membaca menjadi menyenangkan, buatlah area khusus untuk membaca dan dekorasilah semenarik mungkin, agar anak-anak merasa senang saat membaca.

Tips saya memang sederhana, tapi semoga bermanfaat ya!


#Tulisan ini diikutsertakan dalam Postingan Tematik (POSTEM) Blogger Muslimah Indonesia Bulan September.


September 23, 2017

Saat Mendidik Tidak Hanya Cukup dengan Cinta Saja

by , in




Menjadi orang tua, artinya kita harus belajar seumur hidup. Kenapa kita harus terus belajar menjadi orang tua? Karena tidak ada sekolah khusus untuk menjadi ibu ataupun ayah sebelum kita menikah, oleh karena itu, sering terjadi kesalahan dalam mendidik anak.
Begitu banyak orang tua yang memanjakan anak, segala kemauannya selalu dituruti, akibatnya setelah dewasa lupa memberi karena selalu diberi. Begitu pun, banyak orang tua yang mendidik anaknya terlalu keras sehingga anak menjadi salah jalan, dan menjadi benci pada orang tuanya. Naudzubillah.
Sebagai orang tua mencintai anak memang sebuah keharusan tapi mencintai dengan bebas dalam arti memanjakan anak dengan memenuhi segala keinginannya adalah sebuah kesalahan. Begitu pun sebaliknya, setiap keinginan orang tua harus dituruti anak pun sama sebuah kesalahan. Karena dalam mendidik anak cinta saja tidak cukup karena harus ada logika yang mengiringinya.
Kalau begitu bagaimana cara agar kita bisa mendidik anak dengan cinta dan logika?
Sebelumnya, hal yang harus kita ketahui adalah ada empat tipe pola asuh yaitu tipe helikopter,sersan pelatih, otoriter dan otoratif. Tipe helikopter adalah gaya pengasuhan dimana orang tua terlalu memberikan perlindungan pada anak, meskipun salah selalu diselamatkan dan seakan anak tidak bisa menjalani hidup tanpa kehadiran ibunya. Sedangkan tipe sersan pelatih adalah saat anak dididik dengan cara keras, teriakan menjadi makanan sehari-hari serta anak tidak diberi kesempatan berpikir untuk mengambil keputusan. Tipe otoriter lebih keras dari gaya sersan pelatih, dimana apa yang diinginkan orang tua harus dipenuhi anak, semua diatur oleh orang tua. Dan, tipe keempat yaitu tipe otoratif yaitu tipe pengasuhan seimbang diamana, apa yang diharapkan orang tua selalu dikomunikasikan dengan anak, dan disampaikan dengan jelas serta mensupportnya untuk meraih harapan-harapan kedua orang tuanya.
Nah, mari kita bercermin termasuk tipe pola asuh yang manakah kita selama ini? Jawabannya ada dihati masing-masing.
Jika jawabannya kita termasuk dua tipe pola asuh diatas, maka mulailah untuk merubahnya dengan cara pengasuhan cinta dan logika.
Bagaimana memulainya? Menurut Bu Elly Risman, ada 4 tips pengasuhan cinta dan logika yaitu:
1.    Anak adalah pinjaman.
Menyadari bahwa anak itu hanyalah pinjaman, bukan hak milik. Untuk itu, kitalah orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban bukan pengasuhnya, bukan neneknya ataupun yang lainnya.
2.    Memutuskan masa lalu.
Tanpa kita sadari inner child kita sering mempengaruhi pola asuh kita terhadap anak-anak. Untuk itu, hilangkanlah dulu inner child kita, bisa dengan sholat dan perbanyak dzikir. Jika Inner child ini belum hilang, maka pola asuh yang salah dari orang tua kita akan selalu terulang kembali karena sudah mewarnai pikiran kita selama bertahun-tahun.
3.    Bangun konsep diri yang positif terhadap anak
4.    Belajar dari kegagalan dan ajarkan anak untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.
Saat mengikuti seminar ini, saya bagai kena teguran, bahwa ternyata bukan anak yang salah tapi, kita sebagai orang tua yang banyak salah terutama saat mendidik mereka. Terkadang kita ingin anak-anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah, tanpa berkaca pada diri sendiri sudahkah kita merawat dan mendidik mereka  dengan baik?
Yang terakhir, sadarilah anak itu adalah amanah, titipan dari Allah, maka kita sebagai orang tua yang harus mendidik langsung bukan diserahkan pada pengasuh atau siapapun. Jadi, jangan salahkan pengasuh ataupun lingkungan jika anak kita melakukan hal-hal yang tidak baik, tapi salahkan diri kita yang terkadang lebih mementingkan kepentingan sendiri daripada menjalankan tugas menjadi orang tua yang selalu mendampingi anak-anaknya dengan baik.
#KuliahUmumIIP
#BundaEllyRisman


September 03, 2017

Tips Menyimpan Pakaian Agar Tetap Rapi

by , in



 



Dalam rumah tangga biasanya ada perbedaan karakter antara suami istri, salah satunya dalam masalah kerapihan. Pasangan A istrinya seorang yang suka kerapihan dalam semua hal, tapi suaminya tipe suami yang kurang perduli dengan kerapihan. Pasangan B sebaliknya suami senang rapi tapi sitri seakan cuek akan kerapihan.

Begitulah, banyak pasangan dianugerahi suami atau istri yang sering kali sifat dan karakternya terbalik 360 derajat. Namun, yang menjadi masalah jika suami atau istri kita tidak bisa merubah sifatnya, ya jangan memaksa. Kitapun sama pastinya tidak ingin dipaksa untuk merubah sifat, apalagi kebiasaan yang sudah dari lahir terbiasa tidak akan semudah membalikan telapak tangan untuk merubahnya.

Daripada kita ribut dengan pasangan hanya gara-gara hal yang sebenarnya sepele bisa menjadi besar, ya lebih baik kita rubah pola pikir yang tadinya banyak menuntut jadi banyak mencontoh.

Nah, kebetulan nih, saya sering kali kalau pakaian dalam lemari yang sudah disetrika menjadi acak-acakan kembali. Rasanya ingin ngomel terus setiap hari, tapi setelah dipikir-pikir daripada ngomel terus-terusan lebih baik saya cari solusinya.

Pas ada laci susun yang terbuat dari plastik, ada ide nih, coba pindahin semua baju suami yang tadinya satu rak lemari jadi pakai laci tersebut. Mulailah buka lagi buku marie kondo, intip-intip IG dan buka youtube.
Akhirnya, mencoba lipat baju seperti biasa namun yang berbeda lipat lagi sesuai ukuran tempatnya supaya muat.


Sebelum dirapikan

 Lipat seperti biasa lalu lipat lagi sesuaikan dengan ukuran lacinya






Gimana? Lumayan lebih rapi ya, dibanding yang sebelumnya?
Selamat mencoba dan semoga menginspirasi!


My Instagram