Perempuan dan Belanja

Mei 27, 2017




Perempuan dan belanja adalah dua hal yang sulit dipisahkan, karena perempuanlah yang berperan penting dalam roda ekonomi keluarga. Yang menjadi pertanyaan, perempuan mana sih, yang nggak suka belanja? Rata-rata yang namanya perempuan senang belanja, meskipun tentunya tidak semua perempuan suka belanja. Apalagi kalau tahu ada diskon produk fashion besar-besaran pastinya ingin langsung pergi dan ikut ngantri di mall-mall meskipun berdesakan dan menghabiskan banyak waktu.
Sebenarnya apa sih yang menjadi alasan perempuan suka belanja? Berikut ini alasannya:
1. Takut dibilang ketinggalan zaman
Khusus untuk mode fashion setiap tahun selalu berbeda tidak pernah sama, akan selalu ada inovasi-inovasi terbaru baik dari model pakaian, aksesoris, sepatu sampai dengan model tas. Bagi perempuan yang ingin disebut “kekinian” alias nggak ketinggalan zaman tentunya akan selalu mengikuti trend fashion terbaru. Tanpa memperdulikan masih banyak tumpukan pakaian di lemari, tanpa memperhitungkan biaya yang dikeluarkan yang penting tidak ingin ketinggalan zaman dan menjadi bahan perbincangan di kalangan teman-temannya.
2. Selalu merasa setiap berpergian atau pergi ke acara resmi tidak ada pakaian yang cocok
Pernahkah menghitung jumlah pakaian yang ada didalam lemari? Tidakkah terlihat begitu banyak tumpukkan pakaian yang berjejalan di luar lemari? Pastinya kita tidak menyadarinya. Setiap pergi ke undangan rasanya tidak ada pakaian yang cocok, tapi saat akan disumbangkan kepada orang lain yang kurang mampu, mendadak pakaian itu bagus semua. Begitulah sifat manusia senang menumpuk-numpuk harta tanpa menyadari semua akan dipertanggungjawabkan.
3. Tidak ingin tersaingi
Sifat yang selalu ingin lebih dari orang lain dalam segala hal, tidak ingin tersaingi dalam penampilan sekalipun akan menyebabkan seorang perempuan senang belanja dan merasa kurang dalam penampilan.
4. Memanfaatkan diskon
Dengan adanya berbagai diskon yang menarik, apalagi jauh dari harga normal maka akan membuat perempuan lupa diri, dan membawa pulang banyak belanjaan tanpa diperhitungkan dulu manfaatnya.
Bagaimana untuk menghindari kebiasaan belanja?
1.  Memilah mana keinginan dan kebutuhan
Untuk meminimalkan kebiasan belanja barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, maka sudah saatnya kita memilah mana yang menjadi keinginan saja dan mana yang memang benar-benar dibutuhkan. Buatlah daftar kebutuhan selama satu bulan, dan lawanlah keinginan yang hanya karena lapar mata saja.
2. Mix and match pakaian
Agar tidak terlihat hanya memakai pakaian yang itu-itu saja, cobalah untuk mitch and match pakaian yang ada. Usahakan setiap membeli pakaian, memilih warna yang netral agar bisa disesuaikan dengan outer ataupun cardigan dengan berbagai warna.
3. Banyak bersyukur
Jangan selalu melihat keatas tapi lihatlah ke bawah, masih banyak orang yang kurang beruntung dari kita dan hanya memakai pakaian yang itu-itu saja, bahkan tidak anggup membeli yang baru. Selalu syukuri apa yang kita punya, jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain.
4. Hindari pergi ke mall-mall ataupun terlalu sering berselancar di dunia maya
Kalau dulu belanja harus pergi keluar rumah dan lama diperjalanan, saat ini belanja semakin mudah tinggal transfer dan membuka HP ataupun laptop maka barang yang diinginkan akan dikirim tanpa harus cape dan menghabiskan waktu dijalan. Nah, untuk itu jika tidak sanggup menahan godaan belanja, lebih baik berhenti bersosial media dan jangan mmebukanya jika tidak terlalu penting.
5. Simpan kartu debit di suami dan jangan menggunakan m-banking
Dengan menyimpan kartu debit di suami, maka akan menahan keinginan untuk belanja karena malas kalau harus ngantri dulu ke bank. Hentikan juga penggunaan m-banking jika Bunda bukan seorang pengusaha yang memang membutuhkan m-banking untuk mencek semua transaksi keluar masuk rekening.
Sebenarnya, sah-sah saja jika perempuan suka belanja karena kaum adam pun sama ada yang hobi belanja, tapi jika diluar batas dan menjadi kebiasaan bahkan berlanjut menjadi penyakit itu yang harus diwaspadai.
Ingatlah cucuran tetesan keringat suami kita saat mencari nafkah untuk keluarganya, apakah kita tega menghambur-hamburkannya hanya untuk kesenangan sesaat? Tentu jawabannya tidak, iya kan?

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.